//
you're reading...
survival

Tersesat Dalam Pendakian Gunung

Tersesat dalam pendakian gunung sering terjadi, di gunung manapun, termasuk di gunung Indonesia yang cenderung masih rimbun hutan belantaranya. Lalu mengapa dan bagaimana jika kita terpaksa harus tersesat dalam pendakian gunung? Maksud arti tersesat dalam pendakian adalah, tak bisa lagi menemukan jalan atau jalur semula untuk turun gunung, sehingga kita merasa hanya berputar – putar di satu wilayah.

Ada banyak hal yang bisa memulai kita tersesat dalam pendakian gunung. Pendaki gunung harus mengirit air yang ada di dalam tubuhnya masing – masing. Akibat kekurangan cairan, pendaki kerap menjadi kehilangan cara berpikir dan salah mengambil keputusan hingga menyebabkan pendaki – pendaki tersesat. Produk mi instan memang tidak salah, tetapi manusia dalam hal ini pendaki gunung sendirilah yang salah memanfaatkannya. Kalau sekadar camping beberapa hari, mi instan memang sangat praktis untuk mencegah lapar. Tetapi, bukan untuk bekal naik gunung yang bisa memakan waktu berhari – hari. Mi instan sangat cepat menarik cairan tubuh. Bila harus tersesat di gunung, yang dibutuhkan bukan hanya makanan, tetapi
juga ketenangan, pertimbangkan stamina, dan berpikir jernih.

Kita boleh nyasar, sebab dengan tersesat akan menambah pengalaman. Lalu, menembus jalan sesat itu harus dilakukan, sebab kita mempunyai pengetahuan dan keterampilan. Namun, mati jangan sampai, sebelum kita memanfaatkan akal pengetahuan dan keterampilan kita. Jadi, begitu hilang, pendaki gunung seharusnya memiliki tekad dasar berupa kemauan untuk hidup, bukan sekadar tekad bagaimana meloloskan diri dari lubang ketersesatan. Hampir 80 persen pencinta alam mati di gunung dalam posisi istirahat. Karena sewaktu lelah, pendaki itu tidur dengan badan yang tidak terisolasi dan cuaca sekeliling lebih rendah. Akhirnya, cuaca itu mempengaruhi suhu tubuh hingga menyebabkan tingkat kesadaran menurun drastis. Lalu, beristirahat selamanya. Mati.

Kelemahan pendaki gunung Indonesia adalah sikap kurang koreksi diri terhadap kecelakaan sekecil apa pun. Mereka sering memandang diri sebagai orang kuat. Contoh paling gampang, kalau kita bermain di air. Sejago apa pun kita berenang, alat pelindung tetap harus digunakan. Begitu pula pendaki yang kerap naik – turun gunung. Matinya sepele, akibat lelah, dia nyasar sampai kedinginan. Model yang kerap dipakai, adalah jika cedera, kita masih mengatakan untung tidak mati.

Terjadinya kecelakaan gunung itu disebabkan oleh kurangnya sikap antisipasi pendaki. Sebagai kaum muda, kita sulit membedakan antara antusiasme dan keselamatan. Kedua faktor ini memiliki garis tipis sekali. Antusias berarti keinginan melakukan kegiatan di alam bebas, tanpa memperhatikan lagi faktor keselamatan. Sedangkan, keselamatan jiwa yang seharusnya diperjuangkan dalam kegiatan pendakian justru dianggap remeh. Ada satu contoh sederhana jika kita tersesat di gunung. Segeralah tenangkan diri denga istirahat agar jalan pikiran juga kembali normal. Lalu carilah tempat yang lapang, dan gunakan senter yang anda bawa. Kemudian, nyala lampu senternya “dimainkan” untuk menunjukkan kepada penduduk sekitar bahwa diri anda butuh pertolongan. Dan tips lagi, jangan lupa meninggalkan tanda – tanda dengan menggunakan batu atau tumbuh – tumbuhan setiap melalui jalan pendakianitu. Dengan Harapan, ada tim SAR atau orang yang tetap mencari.

Saat telah tersesat sebaiknya kita mencari tempat yang lapang atau naik agar bisa memiliki orientasi lapangan.

Bila kita terjebak dan tersesat di hutan yang mengharuskan kita melakukan tindakan survival ada 4 hal yang perlu di ingat yaitu STOP, singkatan dari :

1. Sit ( duduk )
Jika kita menyadari diri kita tersesat dalam suatu perjalanan, hal yang perlu kita lakukan pertama kali adalah duduk tenang atau bahasa inggris-nya, selonjor!

2. Thinking ( berfikir )
Setelah kita duduk tenang, kita mulai berfikir, faktor apa yang menyebabkan kita tersesat, selain itu ada pepatah yang terkenal, “Know Your Enemy” atau kenali musuhmu. di fase ini kita dituntut setenang mungkin, dan mencoba memutar kilas balik peristiwa – peristiwa yang menyebabkan kita tersesat.

3. Observation ( observasi )
Setelah berfikir, kita melakukan apa yang disebut dengan observasi. Dalam fase ini ada 6 Komponen yang harus kita perhatikan dengan seksama yaitu : Air, Makanan, Shelter, Api, Keadaan alam sekitar, dan keadaan cuaca. Dengan melakukan observasi atau pengamatan terhadap 6 komponen tersebut, akan berguna kelak dalam menentukan fase selanjutnya yaitu planning.

4. Planning ( perencanaan )
Pada fase terakhir ini, setelah kita melakukan observasi terhadap keadaan diri kita dan lingkungan sekitar. kita menentukan perencanaan langkah apa yang harus kita lakukan. Apakah kita hanya berdiam diri di tempat tersebut menunggu bantuan dari team SAR, atau kita berjalan mencari sumber pertolongan. Semua perencanaan tersebut harus dibuat sematang mungkin, keadaan kesehatan diri kita merupakan hal yang vital dalam menentukan perencanaan tersebut.

About Hijaukubumiku

Jangan Pernah berhenti Untuk memperkecil Kerusakan lingkungan Satu Pohon seribu Kehidupan

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Coretan Dinding

%d bloggers like this: